Secara umum bicara tujuan keuangan dapat dipisahkan menjadi 2 apabila memperhatikan jangka waktunya menjadi tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Biasanya mereka yang memiliki prospek jangka panjang disebut investor sementara yang ingin keuntungan lebih cepat disebut trader.
Persoalan yang muncul kemudian apabila kita ingin menjadi investor adalah bagaimana menilai valuasi dari suatu aset. Sementara pada mereka yang beraliran trader valuasi bisa menjadi aspek nomor kesekian yang penting timing masuk dan keluar pasarnya tepat.

Price is what you pay, value is what you get
Warren Buffet
Berbagai teknik menilai suatu aset banyak dibahas oleh mereka yang disebut pakar keuangan sesuai bidang keahliannya. Ada yang mulai menjadi influencer dan menulis buku, channel Youtube, konten di Tiktok, Instagram, sampai membuat kelas berbayar dengan iming-iming mereka yang menjadi follower mereka akan ikutan kaya pada waktunya.
Malangnya, tidak semua yang viral berakhir manis, mereka yang ikut pakar dadakan ini tidak sedikit yang akhirnya justru merugi karena terlalu percaya dengan kata-kata panutan mereka. Dalam jangka waktu tertentu mungkin strategi yang diajarkan influencer dapat berjalan tetapi belum tentu dapat bertahan selamanya.
Skandal Keuangan
Paling baru sorotan atas saham GOTO kembali mencuat dan diindikasikan ada fraud yang merugikan banyak pihak termasuk negara sampai puluhan triliun Rupiah. Pasalnya perusahaan yang sempat disebut memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia hari ini mencium kanvas di gocap (bisa jadi lebih buruk lagi).
Skandal semacam ini sebenarnya bukan yang pertama kali dan bahkan bukan menjadi yang terakhir. Selalu ada perusahaan, skema bisnis, atau kelas aset yang datang dan pergi mencari korban.
Setiap kelas aset memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing ini adalah hal pertama yang harus dipahami dan apabila suatu aset terlalu banyak mencetak orang kaya secara mendadak dan dalam waktu singkat kita perlu waspadai karena tidak ada pesta yang tidak berakhir.
Terkait kelas aset seperti saham dan sejenisnya di mana kita yang membeli aset jenis ini hal pertama yang harus disadari investor adalah bahwa harta kita sedang ada dalam penguasaan orang lain dan itu berarti apapun bisa terjadi termasuk kerugian.
Mempercayakan harta kita pada mereka yang viral tetapi tidak dapat dipercaya atau tidak cakap mengelola akan berakibat buruk apalagi jika sifatnya jangka panjang.
Jaminan nama orang besar tidak dapat dipegang sepenuhnya karena manusia juga bukan Tuhan yang tidak pernah salah, bahkan negara saja bisa bankrut apalagi hanya perusahaan pengelola aset.
Teknik Valuasi
Melanjutkan uraian di atas menilai suatu aset adalah keahlian yang sangat mahal. Bagaimana kita dapat tahu suatu batu adalah berlian atau hanya batu biasa dapat menjadi penentu kesuksesan investasi.
Banyak miliarder yang lahir karena melihat konsep bisnis baru dan akhirnya booming bertahun-tahun kemudian. Di saat bersamaan banyak juga yang menjadi pesakitan karena menilai batu biasa layaknya berlian dan menjual segalanya demi all in pada suatu aset dengan harapan akan menjadi orang kaya.
Teknik valuasi yang paling baik sebenarnya adalah dengan melakukan observasi sendiri, ikut kelas, membaca, atau mengikuti konten di social media sebenarnya tidaklah masalah asalkan kita dapat menahan diri dari rasa tamak dan ingin cepat kaya.
Prinsip “kalau rejeki tidak ke mana” boleh menjadi pegangan kita agar tidak mudah tertipu. Selalu ada kesempatan selama kita belajar dan mendalami sesuatu dan bukan hanya ikut-ikutan.
Selanjutnya adalah dengan mencelupkan satu kami dahulu ke dalam air sebelum memasukkan kedua kami akan menyelamatkan kita dari tenggelam. Para pemula atau yang sudah berpengalaman kadang kalap dan melihat peluang seakan-akan hanya hari ini bisa jadi bencana keuangan.
Seorang trader profesional pernah menulis dalam bukunya bahwa setiap hari sebelum mulai bekerja dia akan menghadap kaca dan berbicara pada dirinya sendiri: Hei, hati-hati hari ini kamu bisa melakukan kesalahan fatal. Setiap kita perlu melakukan hal ini juga kalau mau menghindari kesalahan.
Pentingnya Diversifikasi
Seorang pakar keuangan pernah berkata kalau mereka benar-benar pakar soal keuangan, maka dia akan berpegang pada satu aset terbaik saja dan dipegang baik-baik tanpa diversifikasi karena begitu paham dan ahlinya pakar ini. Teknik ini mungkin berhasil bagi pakar itu tetapi kebanyakan kita tidak memiliki keahlian sampai taraf ini.
Perlu Plan B, C dan sebagainya lebih-lebih bagi pemula yang sumber informasinya terbatas. Pengaruh influencer atau tukang pompom menunjukkan masyarakat kita belum paham betul yang dilakukan sementara harapan keuangan di masa depan sangat tinggi.
Tingkat inflasi yang tinggi kadang membuat orang jadi berpikir “uang saya” harus ditempatkan di mana agar nilainya tidak turun. Alih-alih menghindari inflasi, salah menempatkan uang justru akan mengakibatkan uang kita bukan dimakan inflasi tetapi dimakan jin.
Mengapa Emas?
Bicara soal emas masyarakat semua tahu bahwa aset ini nilainya selalu naik, tetapi mengapa menjadi pilihan kesekian dibandingkan aset lain? Jawabannya mudah, karena emas termasuk jangka panjang. Tidak seperti menggigit cabai yang baru digigit langsung pedas, emas perlu waktu untuk menunjukkan efeknya dalam menyimpan kekayaan.
Karena tidak memperhatikan sejarah kebanyakan orang justru memilih aset yang beresiko lainnya. Keunikan lain yang tidak dimiliki aset lain adalah bahwa emas tidak ditentukan oleh faktor luar untuk valuasinya, kondisi seperti perang, bencana alam, pergantian pemerintahan tidak membuat harga emas menjadi nol.

Dalam beberapa tahun ke depan dengan kemajuan artificial intelligence kita masih menebak-nebak aset apa yang terbaik untuk menjadi simpanan dalam jangka panjang. Beberapa berpandangan saham perusahaan dengan teknologi semacam ini mungkin akan makin kinclong harganya seperti NVIDIA.
Kalangan Gen Z dan setelahnya lain lagi, mereka lebih optimis pada kripto. Pada generasi yang lebih tua memiliki preferensi lain dan mulai meninggalkan deposito, obligasi, reksadana dan sejenisnya. Apapun itu pilihan kita nanti haruslah dipelajari berbagai aspek, sering-sering mereview ulang dan mulailah dengan diversifikasi.

