Kemampuan untuk mengelola keuangan pribadi perlu dimulai dari diri sendiri. Bukan hanya pada mereka yang berpenghasilan rendah yang boleh jadi mengalami kesulitan keuangan tetapi pada mereka yang berpenghasilan besar di atas rata-rata pun kerap kita temui mereka gagal dengan keuangannya.

Istilah besar pasak daripada tiang sepertinya yang paling cocok menggambarkan kondisi mereka yang tanpa sadar membiarkan pengeluaran mereka lebih besar dari pada penghasilan.
Alhasil untuk membiayai pengeluaran mereka yang berlebih itu mereka terpaksa berhutang atau mencari penghasilan dengan cara yang tidak halal.
Mengapa Kita Boros?

Setiap pengeluaran yang tidak perlu atau tidak tepat sasaran dapat dikatakan sebagai pemborosan dan kita harus menanggung konsekuensinya.
#1. Tidak Membuat Anggaran
Keborosan pada dasarnya tidak ada yang menyukai apalagi terkait dengan uang. Masalahnya adalah kita sering tidak sadar telah terjadi kebocoran dan itu karena hal yang sederhana yaitu kita tidak mencatat.
Bila selama ini kita bingung sudah bekerja lama tetapi tidak ada yang berhasil kita simpan maka kita perlu menelusuri lagi pos-pos keuangan kita khususnya pada sisi belanja.
Sudah bukan hal yang heran kalau kita membeli lebih dari yang kita butuhkan karena pengaruh lingkungan. Entahkah dari orang di sekitar kita maupun dari maraknya iklan di social media yang kita lihat setiap hari.

Bila kita mau mendisiplin diri kita dengan mencatat apa saja pengeluaran kita maka kebiasaan tersebut akan membantu kita menemukan pos-pos kebocoran yang selama ini kita biarkan.
#2. Dopamine

Tahukah Anda bahwa kebiasaan kita berbelanja ternyata ada dipengaruhi oleh faktor fisiologis di otak oleh hormon dopamin.
Sejatinya hormon ini dalam jumlah yang wajar akan memberikan efek yang positif bagi tubuh kita karena di tengah stres oleh kesibukan sehari-hari dopamin berperan untuk memperbaiki mood.
Bahkan terbukti juga dopamin dapat melancarkan peredaran darah, mengalihkan kita dari kecemasan dan memberikan kita perasaan bahagia.
Dari berbagai dampak positif tersebut bila kita membuat kebiasaan yang justru memicu dopamin ini dengan cara yang salah akan memberikan efek kecanduan yang dapat merugikan diri kita sendiri.
Kebiasaan seperti berbelanja ternyata dapat melepaskan dopamin ini dan memberikan rasa bahagia. Tergantung tingkat kecanduannya sejauh mana otak akan memberi pesan agar kita bahagia untuk melakukan sesuatu hal.
Kecanduan dopamin ini dapat terjadi juga pada kebiasaan seperti merokok, narkotika, makan berlebihan, pornografi dan sebagainya sehingga mendorong kita melakukan sesuatu secara berlebihan.
Mereka yang sudah kecanduan belanja atau kita sebut shopaholic biasanya menjadikan kegiatan berbelanja sebagai pelampiasan stres. Akan banyak barang yang tidak digunakan bahkan tidak sempat dibuka hanya dibeli.
Mereka ini juga kerap menyesal tetapi tetap akan terus melakukan hal-hal ini dan cenderung lebih banyak ditemui pada wanita.
#3. Kemudahan Pembayaran vs Lebih Mudah Menjual dan Mendapat Lebih Banyak
Pernahkah kita perhatikan iklan yang marak di berbagai platform saat ini? Kemudahan kredit/paylater seakan menjadi juru selamat dari kebutuhan kita membeli sesuatu. Benarkah demikian?
Kalau boleh jujur yang banyak menggunakan pembayaran dengan cicilan ini biasanya adalah mereka yang tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut.
Mereka yang menggunakan cara cicilan/kredit bahkan harus membayar bunga yang terbilang tinggi sehingga harga barang menjadi jauh lebih mahal.

Tidak jarang juga kita dengar mereka yang akhirnya harus berhadapan dengan debt collector dan dari hutang yang kecil harus berurusan dengan bunga yang lebih besar dari pokok hutangnya. Singkatnya keborosan ini dimulai dari lapar mata.
Hidup Hemat Perlu Latihan

Lalu bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur punya sifat boros? Pertama tentunya kita harus sadar dan harus ambil keputusan tidak boleh lagi hidup seperti dulu.
Mulailah ambil langkah-langkah ekstrim, gunting kartu kredit, uninstall aplikasi belanja dan pinjaman online barangkali.
Karena untuk dapat hidup hemat ternyata juga kita harus memiliki kedisiplinan layaknya atlet atau tentara agar keputusan belanja kita tidak ditentukan oleh iklan yang kita lihat tapi dari keputusan kita sendiri.
Sisihkan Minimal 10% Income
Umumnya mereka yang menyesal dengan keuangan adalah mereka yang sudah berumur mengapa kita yang masih muda tidak mulai kebiasaan yang baik dengan keuangan kita.
Tidak perlu menunggu kita mendapatkan gaji pertama, sebenarnya saat kita masih kecil dan ada uang saku pun sudah boleh mulai menyisihkan penghasilan kita sebesar 10% dan ini ternyata juga kebiasaan banyak konglomerat dunia.

Lalu mengapa 10%? Angka ini adalah jumlah yang disaran banyak pakar keuangan dan sebenarnya jika penghasilan kita cukup besar pun akan lebih baik jika kita dapat menyisihkan lebih dari ini.
Mungkin ada yang bertanya kalau gaji/penghasilan saya sangat mepet dan untuk sehari-hari saja pas-pasan lalu apa yang harus dilakukan. Well, tidak ada cara lain Anda harus mencari sumber income lain.
Nyatanya kita tidak bisa hanya terima nasib dengan penghasilan yang segitu-gitu saja. Perlu bagi kita membaca buku, belajar skill baru, bergaul dengan orang yang lebih sukses niscaya kita akan dapat income yang lebih baik untuk dapat mulai menabung.

Kebiasaan sejak dini akan lebih berakar karena itu akan lebih baik jika kebiasaan berhemat dimulai sejak muda. Bila Anda menyesal sudah agak terlambat jangan biarkan anak-anak Anda terlambat sadar dengan keuangan mereka.
Menabung Abstrak vs Menabung Real
Untuk membuat kita sadar dengan tabungan perlu juga kita melatih diri kita dengan tabungan yang terlihat. Saya jumpai mereka yang mencicil properti akan lebih serius melunasi cicilan mereka.
Berbanding mereka yang menabung asal menabung tidak apa penalti atau konsekuensi justru akan lebih rawan mengalami kebocoran/bocor halus.
Kalau berbelanja memberikan efek bahagia karena dopamin, efek menabung tidak terlalu adiktif. Solusinya adalah kita buat menabung kebiasaan yang menyenangkan salah satunya dengan simpan emas.
Memiliki emas yang cantik-cantik ternyata lebih membuat kita bersemangat dan di saat yang bersamaan tidak serumit dan berat seperti bila kita membeli properti.

Jadikan tabungan kita jangka panjang bukan yang kapan pun mudah dikeluarkan apabila ada iklan atau barang bagus. Bila tempat kita menabung mudah dicairkan khawatirnya seperti peternakan ketika nafsu berbelanja datang maka tabungan kita akan segera dicairkan.
Jaman dahulu harta orang kaya adalah bentuknya ternak, bila ada teman atau kerabat jauh datang mereka akan memotong ternak mereka untuk jamuan. Seperti itu juga dengan uang kita tamu ibarat hasrat berbelanja.
Bila hasrat berbelanja muncul dan tabungan kita dalam bentuk yang terlalu liquid kita akan mudah boros dan kemudian setelahnya kita akan menyesal tetapi sudah terlambat.
Bila tabungan kita dalam bentuk yang lebih sulit cair seperti emas, maka kita akan punya waktu untuk berpikir rasional dan terlepas dari kebocoran. Tabungan bukan benar-benar tabungan bila bukan forgotten saving.

