Psikologi Penyimpan Emas

Spread the knowledge

Kerap kali kita berpikir bahwa kekayaan lebih dipengaruhi oleh faktor penghasilan yang besar baik itu dari hasil kerja keras maupun dari warisan keluarga. Faktanya banyak mereka yang telah berpenghasilan besar hingga miliaran atau triliunan Rupiah pun bisa berakhir bankrut dan terjerat hutang.

Lalu faktor apa yang terlewatkan?

Faktor utama yang menentukan masa depan keuangan kita bukan ekonomi tetapi psikologi

Jim Rohn

Penyimpan Emas

Bagi Anda yang sudah merasakan kesenangan menyimpan emas saat harga sedang naik biasanya justru sayang untuk menjual emas. Padahal setiap kita berinvestasi emas memiliki tujuan untuk membeli murah dan menjual saat harganya naik. Mengapa bisa begitu?

Secara psikologi, emas membantu kita untuk menghindari keborosan. Saat kita memiliki emas kecenderungannya adalah kita menjadi ingin menambah jumlah emas di tangan kita dan sebaliknya keinginan untuk berbelanja menjadi berkurang.

Coba saja bandingkan seandainya gaji atau penghasilan kita bertambah, dan kita tidak segera menabungkannya dalam bentuk yang lebih terkunci umpama deposito berjangka, cicilan rumah dan emas. Secara psikologi kita menjadi ingin membelanjakan uang menganggur ini. Di sinilah yang membuat seseorang menjadi sulit kaya sekalipun penghasilan sudah bertambah.

Magnet Kekayaan

Seperti magnet, emas juga memiliki sifat magnet terhadap kekayaan, maksudnya adalah mereka yang memiliki emas akan menjadi sayang untuk menjualnya dan di saat yang sama kita menjadi ingin memilikinya lebih lagi dengan bekerja dan membeli emas lebih banyak lagi.

Tabiat atau kebiasaan inilah yang membuat penyimpan emas menjadi kaya. Mereka yang menyimpan emas juga akan merasakan khawatir bila emasnya hilang atau dicuri sehingga mereka umumnya akan jarang memamerkan kekayaannya.

Kebutuhan dan Keinginan

Tanpa kita sadari, keputusan keuangan kita paling banyak justru diambil dari faktor emosi, sebagai contoh ketika kita sedang jalan-jalan ke mall, peluang kita untuk berbelanja tentunya akan lebih besar dibandingkan bila kita hanya mencari keperluan secukupnya. Sesudah pulang dari mall kadang-kadang kita berbelanja barang yang tidak penting dengan alasan sedang promo.

Lebih jauh lagi paparan iklan yang sering kita lihat di smartphone dan aneka promo belanja membuat kita semakin rentan untuk berbelanja barang yang kita sebenarnya tidak perlukan.

salah satu tulisan di pusat perbelanjaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbelanja memang memberikan efek menenangkan hati dan mengurangi stress, tetapi bila sudah tidak terkendali atau biasa disebut dengan compulsive buying disorder dan menyebabkan masalah keuangan nantinya hal ini akan berbalik menjadi sumber stress yang lebih berat.

Berhemat Sebelum Terjerat

Kesalahan kebanyakan kaum muda yang masih produktif adalah mereka baru mulai berhemat ketika keuangan sudah mulai sekarat. Padahal kalau kita telah biasa berhemat dengan hanya berbelanja sesuai kebutuhan, kondisi keuangan kita akan lebih stabil ke depannya.

Masa-masa ketika kesehatan masih prima, penghasilan masih stabil, bisnis dan pekerjaan masih lancar justru harus dimanfaatkan menyiapkan pundi-pundi dan bukan dihabiskan untuk kesenangan dengan anggapan semua kondisi baik ini akan terus berlangsung selamanya.

Kita tidak pernah tahu kapan ada krisis ekonomi, apakah perusahaan tempat kita bekerja akan terus dalam kondisi baik dan tetap memakai jasa kita, atau usaha yang kita kerjakan tetap lancar. Jadi menabunglah ketika kondisi masih baik.

Bila Anda mulai memikirkan menyimpan emas bersama Public Gold Indonesia dengan sejumlah kelebihan Anda perlu baca cerita Mengapa Public Gold?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *