Bermula Dengan Emas

Spread the knowledge

Sudah berapa lama Anda telah bekerja, apa saja hasil dari pekerjaan Anda? Apakah tabungan Anda sudah cukup untuk tujuan Anda 5 tahun, 10 tahun atau bahkan 20 tahun ke depan? Atau justru Anda masih berkutat dengan hutang gali lobang tutup lobang?

Fakta uniknya ternyata adalah seberapa besar pun gaji bukan jaminan keuangan kita akan baik. Ternyata faktor psikologi dan bagaimana kita mengelola keuangan jauh lebih penting karena ini yang menentukan apakah uang kita tepat guna.

Kebiasaan berhutang membuat uang kita habis untuk membayar bunga bukan untuk membiayai kehidupan kita.

Perlu Berinvestasi/Menabung

Sedari kecil kita pasti pernah mendengar peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Tapi seiring perjalanan waktu kadang hal ini tidak kita terapkan dalam keuangan. Karena sudah biasa gagal menabung lantas kita anggap tidak menabung adalah hal wajar.

Menabung berarti kita mempersiapkan diri untuk masa depan yang tidak pasti ketika kondisi kita masih relatif baik. Bagi mereka yang sudah biasa hemat menyisihkan uang bukan hal yang sulit tetapi bagi mereka yang kerja hari ini untuk hidup hari ini sulitnya bukan main. Seperti macan dipaksa menghilangkan belangnya.

Apa pun itu kita semua pasti sepakat menabung itu sesuatu yang baik dan perlu dilakukan. Kendala selanjutnya berapa yang harus ditabungkan, dan dalam bentuk apa? Pilihan cara kita menabung pun beragam saat ini dan masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Mengapa Emas?

Emas bagi beberapa orang dianggap sesuatu yang kurang menarik, sebut saja investor legendaris Warren Buffet menganggap membeli emas adalah hal yang bodoh dan berkali-kali dia menolak untuk menyimpan emas karena alasannya sebagai asset tidak produktif.

Lantas bagaimana emas kalau kita bandingkan dengan beberapa jenis asset lain? Berikut beberapa perbandingannya:

#1. Emas dan Deposito

Deposito sebagai salah satu bentuk tabungan yang paling umum dan banyak dipilih. Banyak bank yang memiliki sekarang deposito digital yang memiliki termin pendek. Dengan cara ini dibandingkan tabungan biasa nasabah akan diberikan pilihan tingkat bunga yang lebih baik.

Sayangnya sekali pun bunga yang diberikan sudah optimum dari sisi bank, ternyata dari pengalaman nilainya hanya tipis lebih kurang dari inflasi. Selain itu kita juga tetap harus ingat ada resiko jika banknya bankrut dana kita yang ditanggung LPS terbatas (walaupun masih cukup besar jaminan mencapai 2 milyar Rupiah).

Pengusaha Benny Tjokrosaputro, terjerat kasus korupsi yang melibatkan Asuransi, saham, dan reksadana

Dari sisi keamanan mungkin deposito cukup baik tetapi kalau kita bandingkan dengan emas kenaikan harganya secara rata-rata berada dikisaran 10% per tahun lebih baik dari deposito pada umumnya. Inilah yang menjadikan emas sebagai asset safe haven.

#2. Emas dan Saham

Memilih saham sebagai instrumen investasi dengan tingkat resiko moderat biasanya lebih disukai milenial. Berbagai cerita bagaimana banyak mereka yang kaya dari saham menjadi inspirasi untuk menjadikan saham pilihan investasi.

Tetapi kurang adil rasanya kalau kita hanya melihat dari sisi manisnya saham saja. Cerita mereka yang merugi dan menjadi miskin, mengorbankan biaya kuliah, tabungan pernikahan karena spekulasi di saham pun ada.

Secara index mungkin IHSG memang naik lebih baik dari emas namun yang harus jadi catatan adalah perlu kemampuan analisis juga untuk memilih saham. Selain money management juga tentunya harus dikontrol.

Selain itu menilai saham hanya dari historisnya saja juga tidak selalu berhasil. Peluang perusahaan yang sahamnya bagus selama puluhan tahun menjadi memburuk dan nilai sahamnya jeblok pun tetap terbuka. Sebut saja saham Nokia yang sempat jadi rajanya ponsel bisa berakhir tragis karena perubahan teknologi.

Saham Nokio, sempat menjadi primadona tetapi jatuh dalam selama bertahun-tahun

Peluang saham menjadi nol lebih mungkin daripada peluang emas menjadi nol, karena emas digunakan di seluruh dunia sebagai perhiasan juga. Ini juga berlaku pada reksadana. Reksadana juga bagaimana pun berarti kita mempercayakan harta kita dikelola orang dan seandainya mereka yang mengelola uang kita tidak jujur tamat sudah.

#3. Emas dan Properti

Konglomerat yang kaya dari properti cukup banyak sehingga melabuhkan pilihan di bidang ini adalah wajar. Tapi tahukah kita, kalau ilmu di dunia properti (tanah dan bangunan) juga tidaklah sederhana.

Mulai dari menilai suatu properti, mengatur cash flow, belum lagi urusan hukum dan teknik negosiasi dengan klien tentu bukan ilmu yang akan didapat dalam semalam. Kadang juga perlu try and error.

Selain itu ketika kondisi sedang buruk atau timing yang tidak tepat bisa memaksa kita menjual properti dengan cepat untuk melunasi hutang dengan harga murah.

Bubble pada sektor perumahan di Amerika menyebabkan harga rumah jatuh

Bagi pemula biasanya keluarga muda yang ingin memiliki hunian pertama mengambil kredit bank untuk memiliki rumah mereka tetapi tanpa perencanaan matang bisa jadi seluruh energi terkuras hanya untuk melunasi hutang rumah ini.

Sementara kalau pada emas kita tidak perlu memikirkan banyak regulasi, kalau kita butuhkan dana mendadak pun kita akan lebih mudah menjual emas dan bahkan kenaikannya tidak kalah dengan harga properti pada kebanyakan kasus.

Mengapa Public Gold?

Emas di negara mana pun memiliki sifat yang seragam lantas mengapa bermula di Public Gold? Mungkin emasnya sama tetapi asal kita tahu ternyata urusan jual beli emas itu tidak seragam tergantung perusahaan pencetak emasnya.

Pertimbangan utamanya adalah ketika kita ingin membeli apakah kita menerima emas dengan harga yang wajar dan ketika menjual kembali apakah sulit?

Membeli Emas

Seperti pada pembahasan di atas beberapa asset itu sifatnya dikelolakan oleh orang lain apakah itu deposito, reksadana, saham, obligasi dan lain-lain yang tergolong paper asset. Kita tidak bisa menutup mata ada peluang penggelapan atau human error. Oleh sebab itu membeli emas terbaik adalah emas fisik bukan account digital sekalipun dianggap praktis.

Berikutnya apakah harga emas yang kita bayarkan sesuai dengan harga global. Pada Public Gold Indonesia, harga emas bahkan diupdate setiap 20 menit sekali dan kita dapat memesan di jam berapa pun.

Pada beberapa penjual emas akan menahan stok mereka jika harga jatuh dan baru menjual ketika harga tinggi.

Public Gold adalah perusahaan emas terbesar asal Malaysia yang berdiri sejak 16 tahun lalu dan telah memiliki penyimpan emas di berbagai negara

Menjual Emas

Urusan menjual kembali/buyback tidak kalah pentingnya dalam simpanan emas. Drama seperti hilang sertifikat, kondisi emas rusak, kemasan terbuka dan sebagainya dapat menjadi masalah.

Pada sisi pembeli emas tentu yang akan dirugikan bila sudah terjadi hal-hal ini. Oleh sebab itulah kita harus jeli membeli emas pada perusahaan yang kuat secara keuangan dan juga berkomitmen membeli kembali emas produksi mereka seperti Public Gold Indonesia.

Karena Public Gold juga adalah pabrik emas, urusan kemasan atau bentuk yang tidak sempurna bukanlah halangan. Semua emas akan diukuran kembali berat dan kemurniannya dan Public Gold dapat dengan mudah melebur kembali untuk dicetak ulang. Untuk harga jual kembali pun transparan seperti harga belinya.

Harga emas di Public Gold diupdate setiap 20 menit sekali mengikuti harga internasional

MODAL TERBATAS

Uang adalah alasan utama mereka memilih tidak membeli emas sekarang. Kebutuhan ini dan itu lebih prioritas. Padahal untuk memulai menyimpan emas kita tidak perlu uang berjuta-juta Rupiah di Public Gold.

Dengan menyisihkan uang dari pengeluaran yang tidak perlu pun kita sudah dapat mulai belajar menabung dan menabung emas ternyata lebih awet dari menabung uang tunai.

Tabungan emas Public Gold dapat dimulai dari Rp.300.000,- dan dapat ditarik fisiknya setelah mencapai gram yang diinginkan tanpa biaya penitipan dan administrasi

Asalkan masih ada uang siapa pun dapat menabung, termasuk mengubah bentuknya dalam emas. Bahkan kenaikan harga emas seperti disebut di atas lebih menarik daripada simpanan konvensional lain, kecuali Kita punya skill investasi di tempat lain.

Kita baru tidak disarankan untuk menyimpan emas bila masih terikat hutang dengan bunga yang tinggi, selain itu juga siapkan dahulu dana darurat. Bila kedua kondisi ini sudah kita bereskan barulah kita dapat menabung di tempat yang aman seperti emas.

Sambil menabung emas kita mendisiplin diri untuk hemat, tidak boros dan di saat yang bersamaan lebih bebas mencari peluang penghasilan yang lain sambil menambah ilmu keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *