Pentingnya Menyimpan Emas Saat Resesi

Spread the knowledge

Kondisi perekonomian dan politik yang buruk sebenarnya seperti sebuah siklus yang berulang. Sekalipun kita tidak dapat memprediksi kapan tepatnya tetapi adalah normal kalau terjadi kondisi resesi atau bahkan hyperinflation di negara berkembang maupun yang sudah maju.

Gejala yang umum terjadi saat resesi adalah ketika pertumbuhan ekonomi melambat memicu harga-harga menjadi naik secara significant dan di waktu bersamaan justru terjadi PHK sehingga memperberat pemulihan.

Apa pun penyebab resesi, baik karena faktor yang dapat diprediksi maupun yang tidak dapat diprediksi akan memberikan dampak buruk bagi kita. Karenanya penting sekali ketika kondisi perekonomian masih baik, pekerjaan kita masih stabil dan kita masih dalam usia produktif untuk mulai berpikir untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

RESESI DI INDONESIA

Sejarah mencatat Indonesia pernah mengalami resesi parahnya sejak merdeka pada tahun 1963. Kala itu lebih banyak didorong oleh faktor politik di mana Indonesia memutuskan keluar dari PBB berimbas pada perekonomian nasional.

Sejarah mencatat inflasi kala itu mencapai 119% tentunya berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat dan bila urusan perut sudah disenggol akan berimbas pada keamanan dan kestabilan politik.

Saat kestabilan ekonomi tidak terjaga keutuhan suatu negara jadi mudah goyah karena akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan politik dari isu ketidakpercayaan pada pemerintah.

Resesi berikutnya yang pernah dialami oleh Indonesia adalah pada tahun 1998. Termasuk resesi yang paling buruk sampai sekonyong-konyong dapat meruntuhkan rezim Presiden Soeharto dampak pada masyarakat juga berlangsung lama.

Presiden Soeharto menandatangi perjanjian dengan IMF. Michel Camdessus managing Director IMF saat itu terlihat memandanginya dengan bersedekap.

Penyebab dari resesi atau krismon tahun 1998 salah satunya adalah karena salah pengelolaan utang. Utang yang diambil terutama dalam USD yang rawan mengalami fluktuasi. Bahkan ditenggarai George Soros ikut andil memporakporandakan perekonomian negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Paling terlihat adalah dari nilai tukar Rupiah kala itu melemah dari 2.500/USD menjadi 16.900,- sebelum kemudian Indonesia menjadi pasien IMF dan perlahan kurs Rupiah sedikit menguat.

Terbaru adalah resesi yang terjadi pada awal-awal tahun 2020 karena kehadiran pandemi dan kebijakan lockdown untuk mengatasi covid.

Inflasi di Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Inflasi IHK pada Desember 2022 tercatat menjadi 0,66% (mtm) sehingga IHK 2022 menjadi 5,51% (yoy), meningkat dibandingkan dengan IHK 2021 yang hanya 1,87% (yoy) salah satunya karena kenaikan harga bahan bakar.

Di saat yang bersamaan suku bunga deposito Rupiah ternyata rata-rata memberikan bunga tidak lebih dari 3 persen. Dengan kondisi ini kita perlu mencari alternatif lain seandainya tidak mau nilai kekayaan kita dicuri setiap tahunnya.

Menyimpan uang di bank untuk menghindari keborosan mungkin baik, tetapi melihat tingkat inflasi yang tinggi kadang menabung deposito terlihat kurang menarik

Kekayaan adalah daya beli uang yang kita miliki bukan berapa besar nominal atau nol yang menyertai. Tidak peduli berapa banyak pun angka nol direkening kita, kekayaan kita adalah pada daya belinya.

Kiat Menghadapi Resesi

#1. Hidup Hemat

Layaknya peribahasa sedia payung sebelum hujan, hidup hemat bukan hanya berguna untuk kita mencapai tujuan keuangan. Dengan sejak dini kita hidup hemat akan membuat kita siap ketika kondisi tidak terduga muncul.

Kita tentu berharap untuk segalanya yang terbaik, optimis selagi bekerja namun dalam berjalannya waktu tidak dapat dilupakan masa kelam kerap menghampiri jadi perlu juga untuk kita berhemat sebagai modal kita bertahan.

#2. Persiapkan Dana Darurat

Dana darurat tentu dapat terkumpul ketika kita mulai berhemat dan menyisihkan penghasilan kita entah dari gajikah, atau dari hasil usaha.

Bedanya dengan dana lain dana darurat ini harus kita biarkan mengendap dan tidak boleh digunakan untuk keperluan kecuali memang terdesak.

Idealnya dana darurat ini harus dalam bentuk yang cukup likuid dan dapat digunakan kapan pun dan besarannya harus dapat menghidupi ketika kita tiba-tiba terpaksa tidak dapat menghasilkan lagi.

Contohnya karena PHK, sakit, atau seperti yang terjadi saat pandemi yaitu usaha dan ruang gerak masyarakat dibatasi.

#3. Hindari Hutang Tidak Produktif/Merusak Cash Flow

Berhutang dapat menjadi solusi untuk kita dapat menikmati sesuatu sebelum mampu secara keuangan. Namun tidak sedikit terjadi hutang yang sebelumnya kita kira penyelamat justru menjadi malapetaka.

Hutang pastinya membuat kita membayar sesuatu dengan lebih mahal dan akan menguras sumber daya yang kita miliki bila tidak diatur dengan baik.

Pada kondisi hyperinflasi biasanya hutang KPR akan melonjak tajam, jadi ada baiknya KPR pun diambil sesuai dengan kemampuan dan jangan over optimis bahwa sumber penghasilan kita akan selalu stabil.

#4. Sumber Income Lain

Sudah bukan rahasia lagi kondisi resesi akan melemahkan ekonomi hampir secara keseluruhan. Dari berbagai ancaman dan dampak ekonomi yang timbul biasanya akan ada peluang yang justru dapat tumbuh.

Sebagai contoh mereka yang dapat melihat peluang menjual alat kesehatan saat awal pandemi justru mendapat penghasilan besar. Di tengah kebakaran hutan akan tetap ada pohon yang dapat selamat begitu juga sumber income.

#5. Atur Simpanan

Simpanan yang sudah ada boleh kita carikan lagi peluang yang lebih menguntungkan. Kejelian kita melihat peluang sambil tentunya memperhitungkan resiko akan membantu kita menggandakan nilai kekayaan agar lebih mampu menghadapi resesi.

Bicara soal simpanan yang cukup menarik untuk menghadapi resesi salah satunya adalah dengan bentuk emas logam mulia 24 karat (perhiasan tidak disarankan untuk tujuan menjaga nilai kekayaan).

Dalam jangka panjang nilai emas terbukti nilainya terjamin, selain itu emas juga mudah dijual dan yang pasti siapa pun baik yang kaya mau pun yang penghasilannya masih kecil dapat membeli emas karena dapat dipecah dalam gramasi yang kecil.

Berikutnya emas yang kita miliki sepenuhnya dalam kendali kita dan tidak akan terjadi pembekuan asset seperti yang terjadi pada beberapa lembaga yang mengelolakan asset bila tiba-tiba perusahaannya bankrut.

Emas akan menjamin kita dapat mengalihkan kekayaan dengan memberikan pada pihak mana pun dan juga emas tidak tercatat dalam sistem keuangan sehingga tidak akan dibekukan assetnya. Tentunya ada kelemahan juga ya untuk memegang emas yaitu rawan untuk hilang atau dicuri jadi sebaiknya jangan biarkan orang lain tahu kalau kita memiliki emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *